Oleh: husinaparin | Juli 11, 2009

ANTARA KETENTRAMAN JIWA DAN ZIKRULLAH

Bila kita perhatikan dengan seksama, ternyata manusia di dalam hidup dan kehidupan ini tidak saja memerlukan kecukupan materi, tetapi juga memerlukan sesuatu yang lain, yang amat menentukan, yaitu ketentraman jiwa atau ketenangan batin.

Seseorang dokter berkebangsaan Amerika mengakui, katanya :

“Sewaktu saya muda, saya telah menyusun sebuah tabel berisikan tentang kebutuhan yang diperlukan manusia di dalam hidup, yaitu : kesehatan, kasih sayang, kemampuan, kekayaan dan popularitas atau nama baik. Tabel ini dibaca oleh seorang tua. Ia menyatakan masih kurang, kemudian ia menulis beberapa perktaan : bahwa ada lagi yang diperlukan oleh manusia, yaitu : ketentraman jiwa. Pada waktu itu aku masih itu aku masih belum percaya, tetapi sekarang, setelah saya bergelimang dalam dunia kedoktreran lebih dari setengah abad dan telah mencapai usia tua seperti orang itu tadi, saya mengakui apa yang ia katakan itu benar, manusia di dalam hidup memerlukan ketentraman jiwa.”

Ketentraman jiwa atau ketenangan batin dalam bahwa Aran disebut sakinah atau thuma’ninah. Menurut Rasyid Redha :

“Ketentraman jiwa adalah sikap mental yang timbul dari ketenangan dan merupakan kebalikan dari kegoncangan batin.”

Ragib Asfahani mengatakan :

“Ketentraman jiwa ialah jiwa yang tidak gentar dalam mengahadapi sesuatu.”

Ibnu Qayyim Al Jauziyah berpendapat pula :

“Ketentraman jiwa ialah kosongnya batin manusia dari kekacauan, rasa terasing, kesedihan dan keluh kesah.”

Ketentraman jiwa amat didambakan oleh manusia di manapun mereka berada, dicari-cari oleh manusia yang tinggal di puri dan di istana, diusahakan oleh para hartawan yang berteduh di villa-villa, juga diimpikan oleh si miskin yang berdiam di gubuk-gubuk di desa-desa. Banyak di antara mereka yang mengira ketentraman jiwa didapat pada hal-hal yang bernilai materi yaitu pada tahta, harta dan wanita, namun fakta dan data berbicara lain. Lihatlah mereka yang bergelimang dalam harta, duduk di atas singgasana tahta, atau mereka yang hidup di alam bebas dengan wanita, terutama di negeri-negeri yang sudha dikatakan maju, apakah ketentraman dapat tercipta ? Ternyata semuanya hanyalah hampa. Mereka keliru mencarinya, laksana pencari mutiara yang pergi ke padang sahara, bukan mutiara yang ia temukan, tetapi hanyalah fatamorgana. Limpahan materi memang ada manfaatnya, tetapi tidak di situ adanya ketentraman jiwa; ketinggian tahta memang ada gunanya, tetapi tidak di situ adanya ketentraman jiwa; wanita memang teman hidup seseorang, tetapi bisa-bisa membawa celaka. Manusia dewasa ini diliput oleh jaminan hidup, segala seseuatu ada asuransinya; apalagi di negeri-negeri Barat sana, dari ujung tumit sampai ujung rambut ada asuransinya. Tetapi ternyata hidup mereka terus dalam gelisan dan resah. Dibuatlah senjata yang mereka katakan untuk perisai diri dan negeri; yang lainpun memproduksi dengan tujuan yang sama, timbullah saling curiga, timbullah kegoncangan, kekhawatiran dan ketidaktentraman serta stres di dalam jiwa.

Manusiapun mencari ketentraman, pergi tetirah kemana-mana. Ke taman-taman, ke tempat-tempat hiburan. Yang tinggal di tepi pantai pergi ke puncak gunung, yang tinggal di gunung pergi ke tepi pantai, yang tinggal di kota-kota pergilah ke desa-desa, dan lain sebagainya.

Namun, disayangkan, harta habis, tenaga terkuras; ketentraman jiwa belum ditemukan. Mengapa ?

Rupanyanya masih ada yang kurang, kekurangan inilah yang kadang-kadang tidak disadari manusia, yaitu : iman; sebab ketentraman jiwa hanyalah dari Allah SWT, yang Ia anugerahkan kepada hamba-hambanya yang beriman kepadaNya; tidak ia berikan kepada mereka yang mengingkarinya.

 

“Dialah (Allah) yang menurunkan ketentraman di dalam jiwa mereka yang beriman, supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan  mereka (yang sudah ada). (QS. Al Fath ayat 4).

Ketentraman jiwa yang dikehendaki menurut Islam, bukanlah sekedar membuat hidup manusia tenang lantaran pasrah pada keadaan, laksana air yang tenang karena tergenang di suatu tempat, sudah tidak tahu lagi dari mana asal dan kemana tujuannya……tidak demikian. Yang dikehendaki ialah tenang jiwa, tentramnya hati dan sikap mental dalam menghadapi masalah dan memacahkan problema tanpa kecut dan skeptis. Ketentraman jiwa tersebut menjadi motivasi bagi seseorang untuk berbuat dan bertindak agar mencapai sesuatu yang lebih baik, yang pada gilirannya ia rela menerima apa yang dihadapi dan didapatnya.

Kalau seseorang sudah beriman kepada Allah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: