Oleh: husinaparin | Juli 11, 2009

BERIMAN KEPADA ALLAH

BERIMAN KEPADA ALLAH

 

  1. Beriman kepada Allah SWT ada dua bentuk yaitu:

1)     Secara ijmal (global) ialah mengiktikadkan bahwa Allah SWT bersifat dengan segala sifat kesempurnaan dan bersih dari segala sifat kekurangan.

2)     Secara tafsil (rinci) ialah mengiktikadkan bahwa Allah SWT bersifat dengan 20 sifat yang wajib dan 20 sifat yang mustahil serta satu sifat yang jaiz (boleh-boleh saja).

 

  1. Beriman kepada Allah SWT mencakup iktikad akan ke Esa-an Allah SWT (tauhid) pada Zat, Sifat dan Af’al-Nya.

–          Tauhid pada Zat ialah mempercayai bahwa Zat Allah SWT wajib ada yang tidak terdiri dari bagian dan tidak terbagi kepada beberapa bagian (QS. Al-Ikhlas: 1-4).

–          Tauhid pada sifat ialah memepercayai bahwa segala sifat yang dimiliki  Allah SWT hanya Dia yang memilikinya, sedangkan selain Dia tidak ada yang menyamai ataupun mendekatinya.

      –    Tauhid pada Af’al ialah mempercayai bahwa segala perbuatan Allah SWT hanya Dia yang mampu memperbuatnya, sedangkan yang lain tidak mampu memperbuat, baik menyamai atau mendekatinya.

 

3.                          لا يجوزالتكلم فى ذاته تعالي بالعقل لان العقل قاصر

عن ادراك ذات الخالق فكل ما خطر ببالك فالله خلاف ذالك   

     

      Tidak dibenarkan membicarakan Zat Allah SWT karena akal tidak mampu

      menggapainya, apa saja yang terlintas di hati, itu bukan Zat Allah SWT.

     

      Nabi saw bersabda:  تفكروا فىالخلق ولاتفكروا فالخالق 

 

Artinya: “Pikirkanlah tentang ciptaan Allah dan jangan memikirkan Zat Allah”.

عرفنا وجوداﷲ وباقي صفاته بظهور آثار قدرته

فى هذه المخلوقات الحادثة المتقنة البديعة

Kita mengenal wujud Allah dan sifat-sifat-Nya yang lain ialah dengan melihat hasil daripada kodrat-Nya yang nampak di alam semesta ciptaanNya yang serasi dan indah.

 

4.   Beriman kepada Allah SWT dinyatakan dengan ucapan pengakuan: 

 

لااله الا اﷲ (اي مع) محمدرسول اﷲ 

      Artinya: Tidak ada Tuhan selain Allah, (termasuk pengakuan)

                   Muhammad adalah rasul Allah.

–        Pengakuan dengan ucapan, (“iqrarun bil-lisan”); harus dibarengi dengan pembenaran di dalam hati, (“tasdiqun bil-jinan”), dan dibuktikan dengan amal-perbuatan, yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan menurut ajaran agama, (“amalun bil-arkan”).

–        Pengakuan melalui lidah, menghasilkan diperlakukannya seseorang sebagai seorang muslim; seperti sahnya menjadi imam, dinikahkan dan dikuburkan secara Islam dan lain sebagainya.

      Iman yang sebenarnya adalah keyakinan yang ada di dalam hati.

–        Jika seseorang mengucapkan syahadat, tetapi hatinya tidak beriman, maka orang itu disebut munafik; namun tetap dipergauli sebagai seorang muslim, kecuali jika ia melakukan sesuatu  yang bertentangan dengan ajaran Islam seperti menyembah berhala atau menghinakan mushaf.

Jika seseorang beriman di dalam hati, tetapi tidak mengucapkan dua kalimat syahadat, maka orang itu tidak bisa diperlakukan sebagai seorang muslim, karena yang dilihat adalah lahirnya sedang batinnya hanya Allah SWT yang mengetahui.

 

5.   Beriman kepada Allah SWT adalah:

      –    Pengakuan bahwa Dia adalah Pencipta, Pengatur dan Pemelihara alam semesta; hal ini disebut Tauhid Rububiyah. Pengakuan ini menuntut agar mengakui bahwa Allahlah yang berhak disembah ditaati dan dilaksanakan segala aturan-Nya (syariat-Nya) ini disebut dengan Tauhid Uluhiyah atau Ubudiyah.

–        Bila tauhid hanya sampai pada Tauhid Rububiyah tanpa Tauhid Uluhiyah; maka seseorang akan :

sama saja dengan iblis (QS. Shad: 73-78) dan

sama dengan orang-orang Jahiliyah (QS. Luqman: 25, Al-Zumar: 38 dan Al-Zukhruf: 9 & 78).

       

 

       

 

 

“LA ILAAHA ILLALLAAH”

–         Kalimat ini disebut  “Kalimat Tauhid”, karena dengan kalimat ini kita meyakini dan mengakui bahwa “tidak ada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya melainkan Dia”.

–         Kalimat ini disebut juga “Kalimatul-Ikhlas”, karena kalimat ini murni membicarakan tentang Allah swt, tidak ada pembicaraan yang lain.

Bagaimana kita mengenalNya ?

Imam al Junaid berkata : “Tidak ada yang dapat mengenal Allah swt kecuali  Allah swt sendiri.” Selanjutnya

            Imam al Gazali berkata pula : “Allah swt bukanlah seperti apa yang terlintas di benak, atau terlukis pada pikiran, atau tergambar dalam perkiraan kita. Bila ada yang bertanya : “Sampai dimanakah ujung pengenalan seseorang terhadap  Allah swt ?” Jawablah  :“Ujung pengenalan seseorang terhadap Allah swt ialah ketidak mampuannya dalam mengenalNya.”

 

Ada dua jalur pengenalan  terhadap Allah swt, yaitu :

Jalur pertama, yaitu hakiki (yang sebenarnya) hanya dimiliki oleh Allah swt sendiri; jalur ini tertutup bagi yang lain;

Jalur kedua yaitu nisbi (relatif); jalur ini terbuka sepenuhnya bagi hamba, yaitu :

–         dengan mengenal asma (nama-nama) Allah swt; ternyata nama-nama Allah swt itu sebenarnya adalah sifat-sifatNya, Pengenalan Allah swt melalui asmaNya adalah berdasarkan berita-berita wahyu dari Allah swt sendiri. Dalil-dalil ini disebut dalil naqli.

–         dan melalui pengenalan terhadap keajaiban alam semesta yang diciptakan olehNya serta rahasia dan hikmah yang terselubung pada benda-benda yang ada. Pengenalan Allah swt melalui keajaiban alam semesta yang diciptakanNya dibuktikan oleh akal yang logis, disebut dengan dalil aqli.

 

Dalil naqli dibuktikan dan dibenarkan oleh dalil aqli; dan dalil aqli dikuatkan dan dibenarkan oleh dalil naqli;umpamanya wahyu menyatakan bahwa Allah swt bersifat rahman dan rahim (QS 1 ayat 1) ini disebut dalil naqli. Hal ini dibuktikan oleh dalil aqli bahwa sifat rahman dan rahim Allah swt dirasakan oleh manusia, dimana manusia hidup dengan nyaman di permukaan bumi ini lengkap dengan segala fasilitas yang diperlukan oleh mereka berupa udara (oksigen) untuk bernafas, air untuk minum, api (energi) untuk keperluan pemanasan; padahal manusia tidak pernah memintanya tetapi langsung disediakan olehNya.

Pengenalan para hamba terhadap Allah swt, berbeda satu sama lain. Al Gazali mencontohkan, murid-murid mengenal gurunya sekenal-kenalnya, bagaimana pemikiran, aliran yang mempengaruhi dan arah jalan pikiran tersebut, dan lain sebagainya; tetapi pembantu yang bekerja di rumah sang guru hanya kenal bahwa guru itu adalah seorang yang berilmu, selesai.

Hak seseorang untuk berpikir dan bertanya tetapi ada batas dan ada tempatnya. Pemikiran manusia berdasarkan  pengalaman yang ia ketahui. Banyak hal yang tidak diketahui oleh manusia. The Black Hole Theory mengatakan bahwa manusia hanya mengetahui sekitar 3 %  dari wujud yang ada, sedang selebihnya 97 % masih misterius atau majhul. Oleh sebab itu manusia boleh berpikir tetapi pada batas kemampuannya dan  boleh bertanya tetapi pada tempatnya. Nabi saw bersabda : “Pikirkanlah tentang apa yang Allah swt ciptakan dan jangan memikirkan zat Allah swt (bila anda pikirkan juga) anda akan binasa.”

Namun demikian kadang-kadang manusia suka menyangkal, lalu berkata: “Alam ada karena diciptakan oleh Allah swt.Kalau begitu, Allah swt ada, siapa yang menciptakanNya ?”.Pertanyaan ini keliru dan tidak pada tempatnya, karena manusia ingin menerapkan segala sesuatu pada pemikirannya yang terbatas. Sama halnya dengan pertanyaan seekor ikan kepada temannya: “Mengapa burung tidak bisa berenang di dalam air seperti kita.?” Pertanyaan ini keliru karena segala sesuatu ada ketentuannya; yang namanya burung mesti terbang di udara, dan yang namanya ikan mesti berenang di dalam air. Merupakan ketetapan bahwa manusia melahirkan dan dilahirkan; dan merupakan ketetapan bahwa Allah swt (Tuhan) tidak melahirkan dan tidak dilahirkan.Nabi saw bersabda : “Seandainya ada pertanyaan dibenak anda “siapakah yang menciptakan Tuhan, maka katakanlah  “Amantu-billah” (aku beriman pada Allah swt), kemudian anda istigfar karena yang demikian adalah bisikan setan.”

Seorang Arif-billah ditanya apa dalil wujudnya Allah swt, ia menjawab Allah swt itu sendiri. Ia ditanya lagi tentang fungsi akal. Ia menjawab :“Akal tidak mampu apa-apa. Akal hanya mampu membuktikan sesuatu yang tidak mampu seperti dirinya sendiri. Akal adalah makhluk ciptaan Allah swt. Ia hanya mampu menunjukkan sesuatu yang diciptakan Allah swt seperti dirinya sendiri, sedangkan Allah swt bukan makhluk.”

 

 

Syekh  Abdul Halim Mahmud berkata  :

            “Sebenarnya masalah wujud Allah swt bukanlah suatu masalah yang sulit dan rumit dalam agama, karena wujud Allah swt sudah tertancap pada fitrah manusia itu sendiri. Bukankah salah satu nama Allah swt adalah Al Zhahir (Yang Maha Nampak). Allah swt nampak kemanapun manusia  mengarahkan pandangan mata dan pikirannya.Segala sesuatu adalah bukti  (ayat ) wujudNya.” Allah swt berfirman  :

سَنُرِيهِمْ ءَايَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ

Artinya  : “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar…”

(QS Fush Shilat ayat 53)  .

Ibnu Athaillah Al-Sakandari berkata  :

          الهى كيف يستدل عليك بما هو في وجوده مفتقر اليك

Tuhanku  !

Bagaimana dapat dijadikan dalil atas Mu.

sesuatu yang di dalam wujudnya masih berhajat kepadaMu.

أ يكون لغيرك من الظهور ما ليس لك  فيكون  هو المظهر لك

Apakah ada bagi selain Engkau

suatu kejelasan yang tidak ada bagiMu ?

sehingga dia dapat menjadi kejelasan bagiMu ?

متي غبت حتي تحتاج الي دليل يد ل عليك

ومتي بعدت حتي الأ ثا ر هي التي توصل اليك

Bila Engkau tersamar maka perlu adanya dalil (bukti) akan wujudMu.

Dan bila Engkau jauh maka alam inilah yang menyampaikan kepada pengenalan akan Engkau.

Dalam hadits Qudsi Allah swt berfiman   :

كنت كنزا مخفيا فأردت  أن  أعرف  فخلقت  الخلق فبي عرفوني

Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi.

Aku ingin dikenal, maka Aku ciptakan makhluk.

Dengan Akulah mereka mengenalKu.

 

Mengapa Allah swt ingin dikenal oleh makhlukNya ?

Siapa yang mendapatkan manfaat dari pengenalan ini ?

Seorang Arif-billah ditanya :

“Mengapa Allah swt menciptakan semua makhluk ini ? Apakah Dia memerlukan makhluk-makhluk yang Ia ciptakan itu ?”

Sang arif billah menjawab :

“Tidak, Allah tidak memerlukan sesuatu dari makhlukNya. Allah ciptakan makhluk-makhluk karena tiga perkara yaitu:

pertama : karena kodrat (kekuasaan) Allah swt  tidak terhingga, maka harus ada  yang menyaksikannya;

kedua : karena  nikmat Allah swt tidak terhitung, maka harus ada yang menikmatinya; dan

ketiga : karena rahmat Allah tidak terbatas, maka harus ada yang  menerimanya.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Aqaid Enam Puluh Enam

 

Segala puji bagi Allah swt pencipta alam semesta. salawat dan salam semoga tercurah bagi Muhammad, Nabi pembawa rahmat.

Kalimat tauhid adalah kalimat yang dapat melepaskan seseorang dari siksa api neraka, dimana terkandung pada kalimat itu yang wajib diketahui oleh seseorang berupa segala sifat yang wajib bagi Allah swt; yang mustahil, dan yang harus disertai dengan dalil secara ijmal (global).

 

  1. Wujud, artinya ada. Lawannya Adam artinya tiada. Dalil wujud Allah swt tersebut ialah semua makhluk, dalil naqlinya yaitu pada surah as Sajdah   ayat 4.

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا

Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada

di antara keduanya ..”

 

  1. Qidam, artinya sedia. Lawannya Hudust artinya baharu. Dalil Allah swt itu sedia ialah segala makhluk, dalil naqlinya yaitu pada surah al Hadid ayat 3.

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ

“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir.”

 

  1. Baqa, artinya kekal. Lawannya Fana  artinya  binasa. Dalil Allah swt kekal ialah segala makhluk, dalil naqlinya yaitu pada surah Ar Rahman ayat 27.

 

وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

“Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran

dan  kemuliaan…”

  1. Mukhalafatuhu ta’ala lilhawadits, artinya Allah swt berbeda dari segala yang baharu.Lawannya Mumatsalatuhu ta’ala lilhawadits, artinya Allah swt bersamaan dengan segala baharu. Dalil Allah swt berbeda dengan yang baharu adalah segala makhluk, dalil naqlinya yaitu pada surah Asy Syuura ayat 11.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia.”

 

 

  1. Qiyamuhu ta’ala binafsih, artinya berdiri Allah swt dengan zat-Nya. Lawannya, Qiyamuhu bi gairihi  artinya Allah swt berdiri dengan yang lain. Dalil Allah swt berdiri dengan zat-Nya ialah segala makhluk, dalil naqlinya yaitu pada surah An Ankabuut ayat  6

 

 إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya

(tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.”

 

  1. Wahdaniyat, artinya Esa (tunggal). Lawannya ta’addud artinya  berbilang-bilang. Dalil Allah swt Esa ialah segala makhluk, dalil naqlinya yaitu pada surah Al Ikhlas ayat 1

 

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.”

 

  1. Qudrat artinya kuasa. Lawannya ajaz, artinya lemah. Dalil Allah swt kuasa ialah segala makhluk, dalil naqlinya yaitu pada surah Al Baqarah ayat 20

 

إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.”

 

  1. Iradat, artinya berkehendak. Lawannya karahah, artinya benci (tidak berkehendak). Dalil Allah swt berkehendak ialah segala makhluk, dalil naqlinya yaitu pada surah Huud Ayat 107

 

َ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ

“Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.”

 

  1. Ilmu, artinya tahu. Lawannya jahl, artinya bebal (bodoh). Dalil Allah swt tahu ialah segala makhluk, dalil naqlinya yaitu pada surah An Nur ayat 35

 

وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

 

10.  Hayat, artinya hidup. Lawannya maut, artinya mati. Dalil Allah swt hidup ialah segala makhluk, dalil naqlinya yaitu pada surah Al Furqan Ayat 58.

 

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ

“Dan bertawakkallah kepada Allah Yang Hidup (Kekal) Yang tidak mati.”

 

11.  Sama’, artinya mendengar. Lawannya Shummun, artinya tuli. Dalil Allah swt mendengar ialah segala makhluk. dalil naqlinya yaitu pada surah Surah Al Baqarah ayat 224.

 

وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

 

12.  Bashar, artinya melihat. Lawannya ‘ama (‘umyun), artinya buta. Dalil Allah swt melihat ialah segala makhluk, dalil naqlinya yaitu pada surah Al Fath ayat 18.

 

وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

 

13.  Kalam, artinya berkata-kata. Lawannya Bakam (Bukmun), artinya bisu. Dalil Allah swt melihat ialah segala makhluk, dalil naqlinya yaitu pada surah An Nisa ayat 164.

وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا

“Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.”

 

14.  Kaunuhu qadiran, artinya keadaan Allah swt yang kuasa. Lawannya  Kaunuhu ‘ajizan, artinya keadaan Allah swt yang lemah. Dalil keadaan Allah swt yang kuasa ialah segala makhluk; dalil naqlinya seperti pada dalil qudrat.                                               

 

(3)

15.  Kaunuhu muridan, artinya keadaan Allah swt yang berkehendak. Lawannya Kaunuhu ‘ajizan. Keadaan Allah swt yang lemah. Dalil keadaan Allah swt yang berkehendak adalah segala makhluk; dalil naqlinya seperti pada dalil iradat.

 

16.  Kaunuhu ‘aliman, Artinya keadaan Allah swt yang tahu. Lawannya Kaunuhu jahilan, artinya keadaan Allah swt yang bebal (bodoh). Dalil keadaan Allah swt yang tahu adalah segala makhluk; dalil naqlinya seperti pada dalil ilmu.

 

17.  Kaunuhu hayyan, artinya keadaan Allah swt yang hidup. Lawannya Kaunuhu mayyitan, artinya keadaan Allah swt yang mati. Dalil keadaan Allah swt yang hidup adalah segala makhluk; dalil naqlinya seperti pada dalil hayat.

 

18.  Kaunuhu sami’an, artinya keadaan Allah swt yang mendengar. Lawannya Kaunuhu ashamma, artinya keadaan Allah swt yang tuli. Dalil keadaan Allah swt yang mendengar adalah segala makhluk; dalil naqlinya seperti pada dalil sama’

 

19.  Kaunuhu bashiran, artinya keadaan Allah swt yang melihat. Lawannya Kaunuhu a’ma, artinya keadaan yang Allah swt yang buta. Dalil keadaan Allah swt yang melihat adalah segala makhluk; dalil naqlinya seperti pada dalil bashar

 

20.  Kaunuhu mutakaliman, artinya keadaan Allah swt yang berkata-kata. Lawannya Kaunuhu abkama, artinya keadaan Allah swt yang bisu. Dalil keadaan Allah swt yang berkata-kata adalah segala makhluk; dalil naqlinya seperti pada dalil kalam

 

 

 

 

Sifat dua puluh itu terbagi kepada empat bagian :

 

Pertama :   Sifat Nafsiyah yaitu keadaan (hal) yang wajib bagi zat Allah swt. Selama kekal zat itu dalam keadaan tidak disebabkan oleh suatu sebab apapun atau dengan kata lain sifat nafsiyah adalah sifat yang berhubungan dengan zat Allah swt, yaitu satu sifat : wujud.

 

 

 

Kedua  :     Sifat Salbiyah yaitu sifat yang menunjukkan penafian (peniadaan) sesuatu yang tidak patut dengan zat Allah swt, sifat dimaksud ialah Qidam, baqa’ mukhalafatuhu ta’la lilhawadits, qiyamumuhu binafsih dan wahdaniyat.

 

Ketiga :       Sifat Ma’ani yaitu tiap-tiap sifat yang maujud  yang berdiri dengan zat yang maujud yang mewajibkan baginya suatu hukum, atau dengan kata lain sifat-sifat wajib bagi Allah swt yang dapat digambarkan oleh akal fikiran manusia dan dapat meyakinkan orang lain karena kebenarannya dapat dibuktikan oleh panca indra. Yaitu tujuh sifat : qudrat, iradat, ilmu, hayat, sama’ bashar  dan  kalam.

 

Keempat : Sifat Ma’nawiyah yaitu hal (keadaan) yang wajib bagi zat selama kekal zat itu hal keadaannya dikarenakan oleh suatu karena, atau dengan kata lain sifat yang berhubungan dengan sifat ma’ani atau merupakan kelanjutan logis dari sifat ma’ani. Yaitu tujuh sifat : Kaunuhu qadiran, kaunuhu muridan, kaunuhu ‘aliman, kaunuhu hayyan, kaunuhu sam’an, kaunuhu bashiran, kaunuhu mutakalliman.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Disamping pembagian diatas, sifat dua puluh itu terbagi pula kepada tiga bagian   :

 

Pertama :  sifat nafsiyah dan ma’nawiyah maujud (ada) keduanya pada                

     zihin dan tidak maujud keduanya pada kharij.

Kedua   :   sifat salbiyah tidak maujud pada zihin dan tidak maujud pula

     pada kharij, tetapi keduanya maujud pada khabar.

Ketiga   :  sifat ma’ani maujud pada zihin dan kharij.

 

Adapun yang harus pada hak Allah swt ialah memperbuat tiap-tiap yang mungkin atau meninggalkan (tidak memperbuatnya).

            “Makna harus berasal dari kata dalam bahasa Arab : “jaiz”, artinya yang boleh-boleh saja, bukan harus dengan pengertian wajib seperti dalam bahasa Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Makna kalimat  لااله الا الله

            Makna yang terkandung dalam : kalimat La ilaha illallah ialah :

I.   Allah swt kaya daripada tiap-tiap barang yang lainnya (istigna).

     Maksud kaya disini Ia tidak memerlukan apapun dari yang lain.

  II. Berkehendak kepadaNya tiap-tiap barang yang lain  daripadanya  (iftiqar).

I. Allah swt kaya daripada tiap-tiap barang yang lainnya (istigna).

  a. karena Allah swt kaya (tidak memerlukan terhadap tiap-tiap barang

      yang lainnya), maka Ia wajib bersifat  :     

  1. wujud, lawannya : adam.
  2. qidam, lawannya : hudus.
  3. fana’, lawannya : binasa
  4. mukhalafatuhu lilhawadits, lawannya : mumatsalatuhu, ta’ala lilhawadits.
  5. qiyamuhu binafsih, lawannya : qiayamuhu bigairihi.
  6. sama’, lawannya: shummun.
  7. bashar, lawannya: ‘ama.
  8. kalam, lawannya: bakam.
  9. kaunuhu sami’an lawannya: kaunuhu ashammu.

10.  kaunuhu bashiran, lawannya: kaunuhu a’ma.

11.  kaunuhu mutakalliman, lawannya: kaunuhu abkam.

semua ini berjumlah sebelas sifat dan lawannya juga sebelas  sehingga menjadi dua puluh dua aqaid ….……………………(22)

b.  ungkapan kata  : “Allah swt kaya daripada tiap-tiap barang yang lainnya (istigna) maka dapat dipahami :

Pertama : suci Allah swt daripada mengambil faedah pada segala perbuatanNya daripada segala hukumNya, lawannya ialah tiada suci Allah swt daripada mengambil faedah pada segala hukum-Nya.

Kedua  :     tidak wajib bagi Allah swt memperbuat tiap-tiap  yang mumkin atau tidak memperbuatnya, lawannya ialah wajib atas Allah swt memperbuat tiap-tiap mumkin atau meninggalkannya.

Ketiga :      bahwa tiada memberi bekas bagi sesuatu daripada sekalian  “kainat” dengan “kuat” yang telah Allah swt jadikan terhadapnya, lawannya ialah bahwa memberi bekas bagi sesuatu daripada sekalian “kainat” dengan “kuat” yang telah Allah swt  jadikan terhadap segala sesuatu.

             Semuanya ini berjumlah tiga dan lawannya tiga, sehingga menjadi enam aqaid ……………………………………………………..……………(6)

II. Berkehendak kepadaNya tiap-tiap barang yang lain  daripadanya  (iftiqar).

a.  Karena berkehendak tiap-tiap barang yang lainnya kepada Allah                          swt, maka wajib bagi Allah swt bersifat akan sembilan sifat, yaitu: 

  1. qudrat, lawannya yaitu : ‘ajaz
  2. iradat, lawannya  yaitu : karahah
  3. ilmu, lawannya yaitu : jahl
  4. hayat, lawannya yaitu : maut
  5. kaunuhu qadiran, lawannya yaitu : kaunuhu ‘ajizan.
  6. kaunuhu muridan, lawannya yaitu : kaunuhu karihan.
  7. kaunuhu ‘aliman, lawannya yaitu : kaunuhu jahilan.
  8. kaunuhu hayyan lawannya yaitu : kaunuhu mayyitan.
  9. wahdaniyat, lawannya yaitu : taaddud.

             Semua ini berjumlah sembilan sifat dan lawannya berjumlah sembilan  sifat maka jumlahnya menjadi delapan belas sifat …..(18)

 

               b. Ungkapan kata : “berkehendak tiap-tiap barang yang lainnya 

                   kepadaNya  (iftiqar), maka dapat dipahami :

 

Pertama    :  bahwa tidak memberi bekas bagi sesuatu daripada

  sekalian   kainat” dengan “tabiatnya”; lawannya

   memberi bekas bagi  sesuatu daripada sekalian “kainat

   dengan “tabiatnya”.

Kedua   :   baharu alam ini dengan sekaliannya, lawannya kekal

                 sekalian alam, keduanya ini dengan lawannya berjumlah

                 menjadi empat  sifat …………..……………………(4)

 

Catatan :

Makna “kuat” yaitu : tidak ada syarat bersentuhnya sesuatu dengan sesuatu seperti dengan bersentuhnya api dengan kain.

Makna “tabi’at” yaitu : dengan syarat bersentuhnya sesuatu dengan sesuatu dan tidak ada yang mencegahnya seperti bersentuhnya api dengan kayu yang mencegahnya umpamanya keadaan basah.

 

Dengan demikian pada kalimat   لااله الا الله     terkandung  lima puluh aqaid ……..…………………………………………………………………..………… (50)

 

(7)

Makna  محمد رسول الله

Muhammad Rasulullah artinya adalah Muhammad Rasul Allah; terkandung dalam kalimat ini bahwa bagi Rasul Allah ada sifat yang wajib, mustahil dan harus  :

   

  A. Wajib                                   B. Mustahil                  C. Harus

 

 

1. siddiq      (benar).                 1. kizb     (dusta).         1. bersifat dengan  segala 

                                                                                        sifat kemanusiaan.

 

2. amanah  (dipercaya).            2. khianat (culas).         2. lawannya tidak 

                                                                                        bersifat    dengan  sifat                                                      

                                        seperti   kemanusiaan.

                                                          

3. tablig     ( menyampaikan).    3. kitman (menyembunyikan).

 

 

Dengan demikian sifat yang wajib bagi Rasul ada tiga, yang mustahil yaitu lawannya ada tiga dan harus ada dua sifat, kesemuanya berjumlah delapan aqaid yaitu ………………………………………………………….………………..(8)

Masuk pada kalimat ini rukun iman yang lain berikut lawannya  :

       yang wajib                                                            lawannya

1. percaya akan nabi dan Rasul                         1.   tidak percaya nabi dan Rasul

2. percaya akan sekalian malaikat                     2.   tidak percaya akan sekalian                 

                                                                              malaikat

3. percaya akan sekalian kitab              3.   tidak percaya akan sekalian

                                                                              kitab

4. percaya akan hari kiamat                              4.   tidak percaya akan hari kiamat.

 

 

Semuanya ada empat yang wajib dan lawannya empat, maka berjumlah menjadi delapan aqaid …………………………………………………………..………(8)

Dengan demikian dalam kalimat محمد رسول الله   terkandung 16 aqaid.

Rikapitulasi akhir

  1. kalimat  لااله الاالله        mengandung    50  aqaid
  2. kalimat  محمد رسول الله  mengandung  16  aqaid

____________________________________

jumlah  …………….…………….      66 aqaid.

Wallahu a’lam

(8)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: