Oleh: husinaparin | Juli 11, 2009

Khutbah Jum’at Sya’ban

Bulan Rajab telah berlalu, bulan Ramadhan di ambang pintu. Kini kita berada di bulan Sya’ban. Ketiga bulan ini merupakan rangkaian bulan, dimana umat Islam meningkatkan ketaatan kepada Allah SWT, sehingga disebut oleh orang-orang Arab dengan موسم الطا عان.

Bulan Rajab mempunyai keistimewaan tersendiri dengan peristiwa Isra’ Mi’rajnya Nabi Muhammad SAW, orang-orang Arab jahiliyah memuliakannya pula dengan tidak berperang.

Bulan ramadhan, teristimewa dengan dilipatkan gandakannya ganjaran amal ibadah bagi seorang Islam, terlebih-lebih lagi denfgan satu malam yang disebut Al Qadr, yang lebih baik dari seribu bula, di samping pada bulan tersebut umat Islam melaksanakan ibadah puasa.

Adapun bulan Sya’ban juga mempunyai keistimewaan. Dahulunya bulan ini bernama عاَّ ذِلاً  dan  عاَ دِلاً , yang kemudian berobah menjadi Sya’ban, yang artinya bertebaran, karena pada bulan ini bangsa Arab bertebaran untuk mencari padang rumput dan sumur-sumur air atau bertebaran mencari daerah baru dengan mengangkat senjata, setelah sebulan sebelumnya di bulan Rajab mereka meletakkan senjata.

 

Hadirin !

Di dalam sejarah kehidupan Rasulullah SAW dan umat Islam, pada bulan Sya’ban ini terjadi pula suatu peristiwa penting, yaitu dipindahkannya kiblat shalat dari Baitul Maqdis ke mesjid Al Haram di Makkah. Sudah sekian lama memang Rasulullah bedoa’a menginginkan hal ini :

قد نرى تقلب وجهك فى السماء فليولينك قبله ترضاها فول وجهك شطر المسجد الحرام وحيث كنتم فولوا وجوهكم شطره (البقرة : 144)

Artinya : “Sungguh kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit (mendo’a dan menunggu-nunggu turunnya wahyu), maka sungguh kami akan meamlingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai; palingkanlah mukamu ke arah Mesjid Al Haram; dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya……”

Hadirin!

Hal ini terjadi pada tahun kedua Hijriyah pada waktu shalat Dhuha tanggal 15 Sya’ban. Meskipun ada riwayat lain yang menyatakan pada malam pertengahan bulan Sya’ban atau nisfu Sya’ban. Mesjid tempat terjadinya perubahan kiblat ini disebut Mesjid Kiblatain, dan shalatnya disebut Shalatu zate-qiblatain.

 

Hadirin sekalian.

روى البخارى عن عائشة ان النبي صلعم لم يكن يصوم شهرا اكثر من شعبان…وفى لفظ : ما رأيت رسول الله صلعم استكمل صيام شهر قط الا رمضان، وما رأيته فى شهر اكثر منه صياما الا فى شعبان…أو كما قال. (ص 113)

“Nabi tidak pernah berpuasa di luar bulan Ramadhan melebihi puasa beliau pada bulan Sya’ban.”

Menurut lafaz lain :

“Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW menyempurnakan puasa sebulan penuh selain bulan Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada puasa beliau di bulan Sya’ban.”

 

Hadirin !

Melihat seringnya Rasulullah berpuasa di bulan Sya’ban ini, ummat Islam pun bertanya, Usamah bin Zaid memberanikan diri untuk bertanya kepada Rasulullah ;

يا رسول الله لم أراك تصوم من شهر من الشهور ما تصوم من شعبان.

“Wahai Rasul, aku tidak pernah melihat kau berpuasa di satu bulan (selain Ramadhan) seperti kau berpuasa pada bulan Sya’ban.”

 

Rasul menjawab !

ذلك شهر يغفل الناس عنه بين رجب ورمضان وهو شهر ترفع فيه الأعمال الى رب العالمين ، فاحب ان ترفع عملى و انا صائم. (رواه النسائى وأبو داود وصححه ابن حزيمة)

“Itulah bulan yang dilupakan oleh manusia. Bulan antara Rajab dan Ramadhan, bulan dimana diangkat amal-amal kepada Tuhan, maka aku ingin amalku diangkat sedang aku berpuasa.”

 

Hadirin !

Menurut para ulama, diangkatnya ibadah pada bulan Sya’ban adalah laksana laporan tahunan yang dibawa oleh para malaikat kepada Tuhan, sehingga Rasulullah SAW mengutamakan puasa pada bulan Sya’ban agar penutup dari ibadah beliau adalah ibadah puasa.

Kemudian puasa Ramadhan pada bulan berikutnya dimaksudkan agar permulaan daripada tahun baru dimulai dengan ibadah puasa pula.

Selanjutnya Rasul SAW telah pula menyemarakkan bulan Sya’ban dengan melaksanakan shalat panjang di waktu malam.

Beberapa hadits menerangkan hal ini :

أتانى جبريل عليه السلام فقال هذه ليلة النصف من شعبان ولله فيه عتقاء من النار بعدد شعور غنم بنى كلب (قبيلة شهورة لكثرة ماشيتها) لا ينظر الله فيها الى مشرك ولا الى مشاحن ولا الى قاطع رحم ولا الى مسبل أو متكبر ولا الى عاق والديه ولا الى مؤمن خمر.

 “Telah datang kepada-Ku Jibril a.s. dan berkata : Malam ini adalah malam nishfu (pertangahan Sya’ban). Pada malam ini bagi Allah ada orang-orang yang dibebaskan dari api neraka sebanyak bulu-bulu kambing bani kalb. Pada malam ini Allah tidak memandang kepada orang musyrik, orang yang berseteru, pemutus silaturrahim, orang yang sombong orang yang durhaka dengan peminum khamar.”

Aisyah berkata pula bahwa pada malam nisfu Sya’ban Rasul melepaskan dua pakaiannya dan berkata :

اتأذين لى فى قيام هذه الليلة ؟

“Aisyah apakah kau izinkan kepadaku untuk melakukan shalat malam pada malam ini ?

قلت نعم بأبى وأمى

Kata Aisyah kujawab ya demi Allah dan demi ibuku

فقام فسجد ليلا طويلا حتى ظننت أنه قبض فقمت التمسه ووضعت يدى على باطن قدميه فتحرك ففرحت وسمعت يقول فى سجوده : اللهم إنى اعوذبعفوك من عقابك، واعوذ برضاك من سخطك وأعوذبك منك جل وجهك لا أحصى ثناء عليك أنت كما أثنيت عن نفسك…(منجرالاسلام 111)

Artinya :

“Beliaupun sujud sepanjang malam, sehingga kukira beliau telah dicabut nyawanya. Akupun bangun dan kuusap tapak kakinya dengan tanganku, iapun bergerak, legalah aku (beliau masih hidup), kudengan dia berdo’a :

Aku berlindung dengan kemaafan Engkau daripada azab engkau !

Aku berlindung dengan redha-Mu daripada murka-Mu.

Aku berlindung kepada-Mu, Engkau Maha Mulia.

Aku memuji-Mu dengan pujian yang tak terhitung banyaknya; sebanyak Engkau memuji diri-Mu…,

Demikian cerita Aisyah.

 

Hadirin!

Dari beberapa keterangan sebelumnya yang telah kita uraikan dan sesuai dengan Hadits-hadits; dapatlah kita ambil kesimpulan sebagai berikut :

Memang benar Rasulullah SAW menyemarakkan bulan Sya’ban terutama pada malam nisfu (pertengahan). Beliau semarakkan dengan memperbanyak ibadah puasa, shalat, do’a dan istigfar; karena pada bulan Sya’ban diangkatnya amal ibadah kepada Allah di samping keistimewaan-keistimewaan lainnya.

Adapun umat Islam pada masa Rasulullah SAW juga menyemarakkan seperti yang diriwayatkan oleh Anas :

اذا دخل شعبان انكب المسلمون على المصاحف فقرؤها وأخرجوا زكاة أموالهم تقويه للضعيف والمسكين على صيام رمضان….

Artinya :

“Bila bulan Sya’ban telah tiba, maka ummat Islampun menekuni Al Qur’an, sehingga mereka baca, mereka keluarkan zakat harta untuk membantu golongan lemah dan miskin agar dapat melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan.”

 

Hadirin !

Inilah kebiasaan Rasul SAW dan umat islam; memperbanyak ibadah, antara lain : shalat malam dan menekuni Al Qur’an serta mengeluarkan zakat.

Hadirin sekalian ! Sehubungan dengan hal ini, timbul beberapa pertanyaan, berkenaan dengan kebiasaan umat Islam dewasa ini apabila nisfu Sya’ban telah tiba, yaitu:

–         Shalat dua rakaat sesudah magrib.

–         Membaca surah YAsin berjamaah.

Adapun shalat khusus yang dilakukan oleh sebagian umat Islam dan do’a tertentu yang mereka baca sesudah magrib itu menurut seorang ulama Mesir (Ustaz Antar Ahmad Rasyad), dimulai jauh sesudah Rasul wafat, yaitu pada pertengahan abad ke 5 H. terjadi di tanah Syam. Pada waktu itu ada seorang alim dari Nablis yang datang ke Baitil Maqdis, namanya Ibnu Abil Hamra. Beliau bagus dalam membaca Al Qur’an, yang kemudian shalat di mesjid tersebut.  Sesudah beliau shalat, banyak orang yang mengikuti di belakang beliau menjadi  makmum.  Maka sesudah itu tersebarlah cara begini ini hingga seakan-akan merupakan sunnah. Demikian asal mula shalat nisfu Sya’ban yang khusus tersebut.*

 

Adapun mengapa orang membaca Yasin saja ?

Sebenarnya yang dibaca memang bukan yasin, tetapi seluruh Al Qur’an. Tentu hal  ini berat bagi sebagian umat Islam, lalu mereka membaca Yasin, karena Yasin adalah hati Al Qur’an.

Kata Nabi :

 

إن لكل شيء قلبا وقلب القرآن يس وردت أنها فى قلب كل انسان من أمتى (اخرجه البزار-أنظر صفوة التفاسير جز 3/ص6)

Artinya :

“Sesungguhnya bagi segala sesuatu itu ada hati. Hati Al Qur’an adalah Yasin. Aku ingin agar ia berada di dalam hati setiap manusia umatku.”**

 

Demikianlah dapat kita dudukkan persoalan pada proporsinya. Perbedaan pendapat atau khilafiah yang ada di antara ummat Islam tidak harus dipersoalkan. Tapi ada dua pesan, yaitu :

–         Marilah kita gunakan kesempatan atau momentum yang baik ini untuk menjadi salah satu sarana dalam mendekatkan diri kepada Allah, dan lebih dari itu kita jadikan pula sebagai sarana untuk membawa manusia lainnya ke arah takwa kepada-Nya.

–         Dalam menyemarakkan atau menghidupkan bulan Sya’ban khusunya malam nishfu Sya’ban marilah kita beramal ibadah sesuai dengan cara yang kita yakini kebenarannya, perbedaan-perbedaan tata cara yang berlaku antar kita umat Islam, janganlah kiranya menjadikan perpecahan atau merusak Ukhuwah Islamiyah yang ada.

–         Semoga Allah SWT selalu memberikan petunjuk-Nya kepada semua umat beriman, Amien.

–         Semarakkanlah malam nisfu Sya’ban :

اذا كانت ليلة النصف من شعبان فقوموا ليلها وصوموا نهارها……أو كما قال

Artinya :

“Bila malam nisfu Sya’ban telah tiba maka dirikanlah malamnya dan berpuasalah di siang harinya.”***

 

 

*     Lihat Mimbarul Islam, No.8, tahun 31, Sya’ban, 1393 H, Cairo Mesir, hal. 105.

**    Ali Asy Syabuni, Safwatut Tafaasir, Juz 3, hal.6.

***  Dr.Ahmad Asy Syarbasyi, Yas aluu naka Fiddiini Wal Hayat, Juz 4, hal. 346.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: