Oleh: husinaparin | Juli 12, 2009

KHUTBAH PUASA

Kaum muslimin sekalian,

Allah pencipta alam semesta, yang menciptakan manusia dalam mengetahui hakekat segala sesuatu, telah mengatur semua ciptaanNya dengan sebaik-baik aturan dan undang-undang. Di antara manusia ciptaanNya itu ada yang percaya kepadaNya atau beriman dan tunduk kepada peraturan yang dibuat itu; dan ada pula yang mengingatNya dan tidak mau tunduk kepada peraturan itu.

Kepada mereka yang beriman dan mau tunduk, berfirmanlah Allah dalam surah Al Baqarah ayat 183 :

يآايها الذين آمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلم تتقون

“Wahai umat beriman, diwajibkan kepada kamu berpuasa, sebagaimana juga diwajibkan kepada umat-umat sebelum kamu. Semoga kamu bertaqwa.”

Hadirin kaum muslimin,

Hanya kepada mereka yang beriman Allah mengajak dan memerintahkan, bukan untuk menyusahsengsarakan, tetapi untuk mengetahui dan menguji apakah mereka yang mengatakan dirinya beriman itu benar-benar mentaati perintahNya atau tidak. Inilah yang dikehendaki oleh Allah. Itulah dia ibadah puasa Ramadhan yang diperintahkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad dan ummatnya pada tahun ke 2 H.

Kaum muslimin,

Bagi umat beriman yang selalu mematuhi perintah Allah SWT akan mendapatkan ganjaran dari padaNya, disebut pahala. Pahala itu tidak langsung diterima setiap akhir bulan seperti pembayaran gaji para pegawai dan buruh; tetapi pahala akan diterima nanti di alam kekal abadi yaitu akhirat. Bagaimana bentuknya, berat timbangannya, banyak takarannya tidaklah dapat diterangkan karena pahala bukanlah materi yang bisa ditimbang, dihitung atau ditakar; pahala adalah immateri.

Nabi SAW bersabda :

كل عمل ابن آدم يضاعف – الحسنة بعشر أمثالها الى سبعمائة ضعف. قال الله تعالى : الا الصوم فإنه لى وأنا أجرى به يدع شهوته وطعامه من أجلى…

“Semua perbutan bani Adam dilipat gandakan; satu berbanding sepuluh, malah satu sampai banding tujuh ratus. Allah berkata : ”kecuali puasa, puasa itu adalah untukKu, oleh karena itu Akulah yang membalasnya, (betapa sangat Aku hargai sekali) mereka mengakang hawa nafsu syahwatnya dan meninggalkan makan minumnya karena Aku………” (Hadits riwayat Muslim dari Abi Hurairah)

Hadirin,

Pada zaman modern ini, sementara orang banyak bertanya. Mereka tidak mau menerima begitu saja pahala sesuatu, mereka mau baru menerima apabila sesuai dengan akal pikiran mereka. Hal seperti ini mereka terapkan kepada hukum-hukum Tuhan, sehingga mereka bertanya : Mengapa diwajibkan begini, begitu dan lain sebagainya.

Jawaban-jawaban yang diberikan kepada mereka kadang-kadang tidak diterima, karena belum memuaskan pikiran mereka. Sebenarnya hanya sebagian hukum Tuhan yang dapat diketahui hikmat dan arti serta maknanya, namun kebanyakannya menjadi misteri dan rahasia Tuhan; di mana kita manusia tidak mengungkapkan misteri dan rahasia tersebut. Kita cuma meraba-raba di antara hikmat-hikmat itu untuk menjawab pertanyaan “mengapa”. Sebagai contoh :

“Sebuah pabrik yang terdiri dari besi dan baja akan rusak kalau selalu dipergunakan tanpa diistirahatkan. Nah, bagaimana kalau pencernaan makanan kita yang hanya terdiri dari usus dan kulit yang lemah itu ? Maka terdetiklah kesimpulan di benak kita : bahwa puasa adalah untuk mengistirahatkan pencernaan makanan, supaya seseorang tetap sehat…… Shumuu, tashihhuu…..”

Hadirin, jawaban seperti ini adalah telaah kita manusia mengapa puasa itu diwajibkan, yaitu untuk mengistirahatkan pencernaan makanan yang telah bekerja 11 bulan. Kalau demikian, apa perlunya puasa kalau seseorang sudah bisa mengatur makan minumnya hingga menurut dokter pribadi yang dipercayainya sekarang mengatakan bahwa yang bersangkutan “sehat”, apakah puasa masih perlu ? Jawabannya : “Puasa wajib kepadanya” kalau dia mengatakan beriman kepada Allah SWT, karena puasa bukanlah lantaran hikmat-hikmat itu, tetapi adalah karena perintah Allah SWT.

Hadirin, contoh lain :

Shalat adalah untuk mengingat Allah. Firman Allah :

وأقم الصلاة لذكرى…طه آية 14

“Dirikanlah shalat untuk mengingatk Aku.”

Sekarang kalau seseorang sudah mengingat Tuhan, apakah dia masih perlu mengerjakan shalat ? Tentu saja, karena shalat adalah kewajiban yang harus dikerjakan.

Dalam hal larangan : Mengapa dilarang makan daging babi ? Dikatakan karena daging babi banyak mengandung bakteri cacing pita dan penyakit. Pada suatu masa setelah para dokter dapat menghilangkan bibit penyakit itu dengan alat yang serba mutakhir dan canggih, apakah daging babi dibolehkan dan tidak haram lagi ? Bukan, daging babi tetap haram, dia terlarang bukan karena adanya bibit penyakit; tetapi karena memang demikian perintah Tuhan. Adanya diketahui bahwa daging itu mengandung bibit penyakit itu hanyalah kemungkinan alasan mengapa dilarang. Hal ini hikmat dapat diselami oleh manusia. Manusia boleh menganalisa dan menyimpulkan hikmatnya begini dan begitu, karena ini dan karena itu, tapi hukum Tuhan adalah sesuatu yang tetap. Anda sebenarnya tidak usah banyak bertanya, mau percaya dan tunduk kepada perintah Tuhan…silahkan, Tuhan menghendaki ketaatan dan kepatuhan hambaNya, bukanlah di ujung ayat perintah puasa disebutkan la-allakum tattaquun……

Semoga anda menjadi orang-orang yang bertaqwa, mematuhi perintah Allah dengan penuh dedikasi, dengan ikhlas; tidak menjadi pembangkang, tidak menjadi penantang, tidak menggerutu dan mengomel; karena ada juga orang yang melaksanakan perintah, tetapi mulutnya mengomel di belakang.

Hadirin, dalam melaksanakan ibadah puasa; banyak hal yang kita hadapi : haus, lapar, cape, ngantuk, panas dan lain sebagainya, sedangkan kita harus bekerja, membanting tulang dalam mencari kehidupan yang layak. Mungin akan timbul keluhan yang bukan-bukan, mengapa Tuhan memerintahkan puasa, mengapa Islam begitu sulit padahal agama lain begitu mudah. Hal-hal seperti ini mudah-mudahan dapat kita singkirkan; Allah berfirman :

فَاصْبِرْ لحُِكْمِ رَبِّكَ

“Maka bersabarlah anda terhadap ketetapan-ketetapan Tuhanmu.” Al Qalam 48.

Hadirin kaum muslimin,

Dalam melaksanakan ibadah puasa, kebanyakannya kita hanya memikirkan haus dan dahaga kita sendiri, hikmah lain dari ibadah adalah agar kita dapat merasakan betapa penderitaan fakir-miskin yang tidak berpunya. Kita yang berpuasa masih dapat menghitung berapa lama kita berlapar dahaga, kita lihat jarum jam, kita dapat mengatakan : sekian jam, sekian menit lag i aku akan berbuka, aku akan makan. Tetapi coba bayangkan; orang-orang miskin, mereka terpaksa berlapar dahaga; bila makan waktu pagi, entah kapan, berapa jam lagi perut bisa diisi, mereka tidak tahu dan tidak bisa menentukan. Puasa adalah sebagai latihan bagi kita, mungkin suatu saat kita menderita seperti mereka itu, kita tidak tahu lintasan nasib kita yang akan datang. Atau mungkin suatu masa, terjadi krisis makanan, maka dengan adanya latihan tersebut kita sudah terbiasa dengan penderitaan. Dengan berpuasa terasa haus. Maka dengan demikian kita dapat pula membayangkan betapa fungsi dan nikmatnya air dan minum. Coba bayangkan seandainya terjadi krisis air, kemarau panjang, sumber air kering, bagaimana keadaan kita ? maka dengan berpuasa itu, setidaknya kita dapat membayangkan nikmat air.

Hadirin,

Banyaklah hikmat puasa kita mau memetik dan merenungkannya. Rasul SAW bersabda :

عَلَيْكَ بِالصَّوْمِ فَإِنَّه‘ لاَ مِثْلَ لَهُ

“Hendaklah anda berpuasa, sesungguhnya puasa adalah ibadah yang tidak ada persamaan nilainya.” (Hadits riwayat Nasa’i dari Ibnu Huzaimah).

وَأَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لًَّكُمْ…

Dan hendaklah anda berpuasa, karena puasa adalah lebih baik bagi kamu……” Al Baqarah 184.

Hadirin sekalian, jadi berpuasa bukan hanya sekedar menahan diri dari makan dan minum serta seks, tidak…… tetapi puasa adalah untuk latihan rohani dan jasmani. Latihan jasmani, ialah dengan menahan diri dari makan-minum dan hubungan seks sepanjang hari dari terbit fajar sampai tenggelam matahari. Adapun latihan rohani, ialah menahan diri dari segala perbuatan keji yang tergambar dengan :

– menahan pandangan mata (gadh-dhul-bashar) dari memandang sesuatu yang menyebabkan lupanya hati dari mengingat allah.

– menahan lidah dari berkata bohong, dusta, umpat, fitnah, kasar, percekcokkan, omelan dan lain sebagainya yang tidak baik.

– menahan pendengaran dari mendengar segala sesuatu yang dibenci allah.

– menahan semua anggota tubuh dari berbuat sesuatu yang sia-sia dan lain sebagainya yang tidak disukai allah.

Hadirin,

Banyak orang berpuasa, tetapi ia terluput dari manfaat puasa itu. Ia tidak memikirkan apa hikmat puasa dan dampaknya bagi rohani dan jasmaninya, yang ia pikirkan hanyalah dirinya saja. Yang ia pikirkan ialah menu makanan, apa untuk berbuka, apa untuk bersahur. Ia kesana kemari mencari makanan yang disukainya. Bila waktu berbuka tiba, perutpun diisi dua kali lipat dari biasa,. Dengan demikian, pencernaan yang seharusnya mendapat hak cuti malah bekerja dua kali lipat. Bukan itu saja, malah anggaran belanjapun meningkat pula. Hal-hal seperti ini bukanlah karena perintah agama Islam. perintah agama bukanlah sesuatu yang berat, ia menjadi berat dikerjakan adalah karena hawa nafsu manusia itu sendiri. Dalam berpuasa sebenarnya segala sesuatu hendaklah berjalan sewajarnya……

Ada lagi orang yang berpuasa tetapi mulutnya tidak berpuasa; ia menggunjing orang; ia mengomel bila ibu tersalah memasak, ini terlalu asin, ini hambar dan omelan-omelan lainnya; ia menjadi pemarah, ia selalu membentak, kasar dan bengis. Ia sanggup menahan diri dari masalah-masalah lahir, tetapi ia belum dapat mencapai sasaran batin dan manfaat rohani dan dikehendaki oleh perintah Allah. Inilah yang disinyalir oleh Rasul :

رُبَّ صَائِم ليس له من صيامه الا الجوع و العطش

وَرُبَّ قائم ليس له من قيامه الا اسهر

“Berapa banyak orang yang berpuasa, tapi tidak ada yang didapatnya selain lapar dan haus, berapa banyak orang yang shalat di waktu malam, tak ada yang diperolehnya selain kantuk dan bergadang……(Hadits riwayat Ibnu Majah dari Abi Hurairah).

Imam Ghazali membagi puasa dalam beberapa peringkat , yaitu :

Shaumul ‘awam, puasa orang awam yang hanya menahan diri dari syahwat perut dan seksnya.

Shaumul-khawas, yaitu mereka yang dapat menahan pendengaran, penglihatan, lidah dan semua anggota tubuhnya dari segala perbuatan tercela.

Puasa khawashul-khawas, puasanya orang-orang yang sadar bahwa ia berpuasa, yaitu orang-orang yang berpuasa dapat menahan hati, jiwa dan batinnya dari segala keinginan-keinginan yang tercela dan rendah serta tidak terpengaruh dengan keduniaan.

Hadirin sekalian,

Marilah kita laksanakan ibadah puasa dengan sebaik-baiknya, sehingga mudah-mudahan segala apa yang dituju dalam berpuasa itu mencapai sasaran, baik lahir maupun batin.

من صام رمضان ايمانا واحتصابا غفر له ما تقدم من ذنبه.

“Barang siapa yang berpuasa dengan penuh keimanan dengan mengaharap ganjaran Allah, diampuni segala dosanya yang telah lalu…… (Hadits Bukhari, Muslim dan Nasa’i).

Marilah kita memperbanyak ibadah dan kebaikan-kebaikan dalam bulan Ramadhan yang penuh berkat itu.

من تقرب فيه بخصلة من الخير كان كمن أدى فريضة فيما سواه ومن أدى فريضة فيه كان كمن أدى سبعين فريضة فيما سواه

“Barang siapa mengerjakan ibadah sunat pada bulan Ramadhan adalah seperti ia melaksanakan ibadah fardhu di bulan lain; dan barang siapa yang menunaikan ibadah fardhu di bulan Ramadhan, maka seperti menuanaikan tujuh-puluh ibadah fardhu di bulan lain……(Hadits Turmuzi dari Salman Al Farisy).

أقول قولى هذا وأستغفر الله لى ولكم أجمعين، فاستغفرون إنه هو الغفور الرحيم


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: